Kamis, 28 Juni 2012

GURU MU

by. H.R. Taufiqurrahman.MA


Siapa tidak kenal Kiai As'ad Syamsul Arifin. Sang pembawa tongkat berisi pesan penting dari Kiai Kholil Bangkalan  untuk Khadratus Syekh KH. Hasyim Asy'ari itu adalah sosok ulama kharismatik, unik dan pemberani. Beliau adalah salah satu tokoh sentral lahirnya ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama.

Kini, Kiai As'ad sudah lama berpulang ke rahmatullah. Namun, warisan keilmuan dan semangat juangnya masih tetap membara. Ribuan santrinya telah menyebar di berbagai nusantara. Jelas, kenyataan itu menunjukkan kapasitas keilmuan dan kekeramatannya. Dawuh atau wejangan Kiai As'ad, selalu melekat dan diikuti para santri dan pecintanya. Sekali beliau berkata, untaian kalimatnya begitu membekas dalam hati.

Pernah suatu hari, Ustadz Basori Alwi sengaja diundang oleh Kiai As'ad untuk membacakan al-Quran di hadapan ribuan jamaah pengajian rutin yang diasuh oleh Kiai As'ad. Usai Ustadz Basori -yang kini menjadi pengasuh Pesantren Ilmu al-Qur'an (PIQ) Singosari Malang- melantunkan ayat-ayat suci al-Quran, Kiai As'ad memintanya untuk memberikan sedikit tawsiyah di hadapan para hadirin.

Tak bisa menolak, akhirnya Ustadz Basori pun menyampaikan beberapa pelajaran terkait dengan pentingnya membaca al-Quran secara bertajwid dan perlunya mendalami ilmu-ilmu agama, khususnya ilmu al-Quran.

Setelah kurang lebih 30 menit berceramah, Kiai Basori menutup pidatonya dengan doa singkat. Pada sesi berikutnya, Kiai As'ad lalu tampil sebagai penceramah. Dalam muqaddimah pidatonya yang disampaikan dalam bahasa Madura, Kiai As'ad berkata:

"Tan tretan sedejeh! Engak gi, Kiai Basori neka, guruna be'en kabbih. Inga' le, molai setiyah, Kiai Basori nika, guruna be'en kabbih".

"Saudara-saudara! Ingat, Kiai Basori ini adalah guru kalian semua. Saya peringatkan lagi, sejak hari ini, beliau ini menjadi guru kalian semua".

Sungguh luar biasa, akhlaq Kiai As'ad terhadap ilmu. Kiai kharismatik itu ingin mengajarkan betapa seseorang yang telah berjasa mengajarkan sebuah ilmu, meski hanya satu huruf, maka orang tersebut adalah gurunya. Pernyataan Kiai As'ad di atas, mengingatkan pada statemen Sayyidina Ali bin Abu Thalib, "Ana abdu man 'allamani wa law harfan wahidan". Artinya, "Aku adalah hamba setiap orang yang mengajariku meski hanya satu huruf".

Setelah acara pengajian itu bubar, Kiai Basori pun pulang ke rumahnya di Singosari, Malang. Saat itu, beliau memang telah rutin mengajar al-Quran pulang-pergi antara Singosari-Situbondo. Karena belum punya kendaraan pribadi dan bahkan bus angkutan umum pun masih jarang ada, maka terkadang Kiai Basori harus "ngandol" alias numpang truk barang. Sebuah perjuangan demi al-Quran.

Kembali ke kisah tadi. Ketika Kiai Basori naik bus kota di Situbondo, sepulang dari pengajian tadi, kontan saja para penumpang bus mengenali sosok penumpang itu yang tak lain adalah seseorang yang baru saja didaulat oleh Kiai As'ad sebagai guru mereka semua.

Menyadari hal itu, syahdan para penumpang bus berebut untuk salaman dengan Kiai Basori. Jelas hal ini membuat kiai muda itu nervous. Yang lebih mengejutkan lagi, ternyata setiap penumpang itu menyalaminya dengan uang seadanya. Ada memberi salam tempel sebesar 10.000, 5.000, hingga 1.000 rupiah.

Sudah menjadi tradisi di kalangan masyarakat Madura, bila bersalaman dengan kiai, sebagai bentuk ta'dzim terhadap guru adalah memberi salam tempel berupa uang, walaupun mungkin nilainya tidak besar. Bahkan, beberapa orang Madura pantang bersalaman dengan seorang ulama dengan hanya tangan kosong. Mereka menilai salam tempel kosongan adalah su'ul adab dan tidak tahu hormat terhadap ahli ilmu.

Sungguh luar biasa, bentuk penghormatan para jamaah dan santri Kiai As'ad yang notabene-nya adalah orang Madura. Sekali mereka di-dekrit oleh Kiai As'ad bahwa Kiai Basori adalah juga guru mereka yang harus dihormati, maka sejak itu pula mereka tunduk dan memperlakukan Kiai Basori layaknya guru yang harus dimuliakan dalam segala hal, termasuk juga mensalaminya.

Hingga kini, di setiap acara haul Kiai As'ad, Kiai Basori selalu diundang untuk membacakan surah Yasin atau ayat-ayat al-Quran. Kiai Fawaid, putra Kiai As'ad dan juga penerusnya, sama sekali tidak mau menggantikan posisi Kiai Basori dalam membacakan ayat-ayat suci al-Quran di acara haul Kiai As'ad. Mengapa? Salah satu alasannya karena ayahanda beliau telah mendaulat Kiai Basori sebagai Sang Guru Quran.

Sekali seseorang mengajari kita tentang ilmu, meski satu huruf saja, maka sejak itu pula dialah guru kita. Inilah yang dipegangi Kiai As'ad Syamsul Arifin persis seperti prinsip Saydina Ali bin Abu Thalib, Sang Pintu Ilmu dari Madinatul Ilmi.

Jumat, 22 Juni 2012

SUKSES adalah proses

Sukses adalah dinilai dari sebuah proses, bukan hasil akhir.
“Success is a journey”. Sukses adalah perjalanan, bukan hasil akhir. Hal ini dijelaskan dalam al-qur’an  surat 4, ayat 100:
“dan barang siapa berhijrah di jalan Alloh, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rejeki) yangbanyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Alloh dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum samapai ke tempat yang dituju), maka sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Alloh. Dan Alloh Maha Pengampun, Maha Penyayang”.
Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa, kesuksesan seseorang dilihat dari proses dalam menjalani kehidupan itu, bukan menilai sukses berdasar hasil akhir.
Sebagai ilustrasi, seseorang menimba ilmu di suatu sekolah tinggi terkemuka, maka, seseorang itu dikatakan sukses jika setelah keluar dari sekolahan tersebut bisa mempunyai jabatan tinggi dan terkemuka. Itu premahaman sukses yang KELIRU. Yang benar dan berdasar al-qur’an, maka seseorang yang sekolah itu dikatakan SUKSES jika dia bisa menjalani PROSES-PROSES dalam menjalani sekolahnya dengan baik dan benar, kemudian HASIL AKHIR dari kegiatannya bersekolah itu adalah ada digenggaman Alloh semata, seseorang yang sekolah itu tidak memiliki hak untuk memastikan hasil akhirmya.
Itulah pemahaman sukses yang sesungguhnya berdasarkan perkataan (firman) Alloh. Tapi di lain sisi, tidak sedikit orang yang salah dalam memahami SUKSES yang harus diraih. Kesalahan pemahaman ini kadang terjadi pada umat islam yang belajar islam dari orang islam. Seharusnya belajar islam dari al-qur’an dan Assunah.
Kejadian ini tersirat juga dalam sebuah kisah seorang pada jaman sahabat, seseorang itu membunuh sebanyak 99 orang selama hidupnya. Kemudian seseorang itu ada keinginan untuk bertobat. Kemudian dia mendatangi seorang muslim, dan bertanya. “bagaimana kami hendak bertaubat, tapi bisakah kami bertobat karena kami telah membunuh sebanyak 99 orang selama hidup kami”, seorang muslim itu menjawab, “wah begitu banyak sekali kamu membunuh orang, bagaimana kamu bisa bertobat”. Maka pembunuh itu membunuh seorang muslim itu, sehingga orang yang dibunuhnya genap menjadi 100 orang. Kemudian dia mendatangi lagi seorang muslim alim, kemudian bertanya lagi tentang cara yang bisa dia tempuh untuk bertobat. Seorang alim itu menjawab, “pergilah (berhijrah) ke tempat yang baik, yang terletak di suatu tempat”. Maka si pembunuh itu menuju tempat yang ditunjukan oleh seorang alim itu. Di tengah jalan sebelum sampai ke tempat yang hendak dituju, dia menemui ajalnya. Kemudian para malaikat menimbang pahala si pembunuh itu berdasar jauh dekatnya jarak yang hendak dituju untuk bertobat dengan dosanya membunuh 100 orang.
Dari kisah di atas, meski seseorang pada masa lalunya memiliki kisah tidak baik dalam beribadah atau mendekatkan diri pada Alloh, tapi ada perbaikan di hari-hari berikutnya, maka Alloh MahaPengampun.
Di lain sisi, terkadang ada orang yang bertanya tentang perlunya beribadah. ‘buat apa ibadah dari sekarang, sudah saja ibadah nanti pas hari ajal telah dekat’. Maka ibadah yang dijalankan semacam itu, apakah bisa memenuhi tujuan hakiki dari ibadah itu? Tujuan dari IBADAH tiada lain yaitu untuk suatu perantara untuk mendapat RAHMAT dari Alloh SWT.
Kesuksesan atau kemenangan harus benar-benar dipahami oleh umat islam, karena tidak sedikit orang yang salah memahami sukses itu sendiri, sehingga betapa sulitnya menjalani hari-hari karena salah pemahaman. Kemenangan atau kesuksesan juga dijelaskan dalam al-qur’an surat al-imran (3) ayat 100, bahwa: “setiap yang bernyawa akan merasakan (mencicipi) mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkandari neraka dan dimasukan ke dalam surge, sungguh, dia memperoleh kemenangan”.
Memahami sukses itu sendiri, kita bisa berkaca pada sosok sukses, yang tidak diragukan lagi kesuksesannya, yaitu Rasulullah, Muhammad SAW. Dia adalah orang sukses yang diakui dunia, baik oleh orang islam maupun non-islam. Sehingga dalam sebuah buku yang ditulis oleh orang barat, Rasulullah di tempatkan pada urutan orang pertama yang berhasil (sukses) dalam merubah atau mempengaruhi peradaban manusia. Padahal kalau kita lihat, Rasulullah bukan lah sukses karena bergelar professor, bukan juga sukses karena kemandirian, bukan juga karena kekayaan, bukan juga karena keshalihannya. Dia tetap orang biasa. Kesuksesan bukan karena harta karena Rasulullah pun setelah meninggal dunia tidak lah meninggalkan harta yang bergelimang, hanya meninggalkan tempat tidurnya dari pelepah kurma. Sukses juga bukan karena kemandirian, karena buktinya Rasulullah pun membutuhkan para sahabat-sahabat untuk menyelesaikan dan membantu beragam kegiatan dia (dia tidak bisa bekerja sendiri, dan tetap membutuhkan orang lain). Shalih saja, juga tidak cukup untuk meraih sukses, karena Rasulullah pun pernah salah, sehingga mengharamkan makanan, adahal hak untuk mengharamkan atau menghalalkan makanan hanyalah hak Alloh.
SUKSES kalau kita singkat dalam suatu rumus mudah, maka sebagai berikut:
KEJADIAN + TINDAKAN = SUKSES/GAGAL
KEJADIAN + TINDAKAN BURUK = GAGAL
KEJADIAN + TINDAKAN BAIK = SUKSES
Jadi kunci SUKSES ada pada tindakan/amal (Al-qur’an 67:2).
Dan ketahuilah, bahwa ALloh itu melihat PROSES yang dijalani seseorang –baik atau tidak, sedangkan hasil akhir adalah hak Alloh semata.
waallohu’alam.


(Sumber: Ustadz Doddy Al Jambary, Masjid Cut Mutiah, Jakarta Pusat)

Rabu, 20 Juni 2012

Istri yang berhak masuk surga dari pintu manapun

Dahulu di Baghdad ada seorang laki-laki penjual kain yang kaya. Tatkala dia sedang berada di tokonya, datanglah seorang gadis muda mencari-cari sesuatu yang hendak dibeli. Ketika sedang berbicara, tiba-tiba gadis itu menyingkap wajahnya di sela-sela perbincangan tersebut sehingga laki-laki terrebut terkesima dan berkata, “Demi Allah, aku terpana dengan apa yang kulihat.”
Gadis itupun berkata, “Kedatanganku bukan untuk membeli apapun. Selama beberapa hari ini aku keluar masuk pasar untuk mencari seorang pria yang menarik hatiku dan bersedia menikah denganku. Dan engkau telah membuatku tertarik. Aku memiliki harta. Apakah engkau mau menikah denganku?”
Laki-laki itu berkata, “Aku telah menikahi sepupuku, dialah istriku. Aku telah berjanji kepadanya untuk tidak membuatnya cemburu dan aku juga telah mempunyai seorang anak darinya.”
Wanita itu mengatakan, “Aku rela jika engkau hanya mendatangiku dua kali dalam seminggu.” Akhirnya laki-laki itupun setuju lalu bangkit bersamanya. Akad nikah pun dilakukan. Kemudian dia pergi menuju rumah gadis tersebut dan berhubungan dengannya.
Setelah itu, si pedagang kain pulang ke rumahnya lalu berkata kepada istrinya, “Ada teman yang memintaku tinggal semalam di rumahnya.” Dia pun pergi dan bermalam bersama istri barunya.
Setiap hari setelah zhuhur dia mengunjungi istri barunya. Hal ini berlangsung selama delapan bulan, hingga akhirnya istrinya yang pertama mulai merasa aneh dengan keadaannya. Dia berkata kepada pembantunya, “Jika suamiku keluar, perhatikanlah ke mana dia pergi.”
Si pembantu pun membuntuti suami majikannya pergi ke toko, namun ketika tiba waktu zhuhur dia pergi lagi. Si pembantu terus membuntuti tanpa diketahui hingga tibalah suami majikannya itu di rumah istri yang baru. Pembantu itu mendatangi tetangga-tetangga sekitar dan bertanya, “Rumah siapakah ini?” Mereka menjawab, “Rumah milik seorang wanita yang telah menikah dengan seorang penjual kain.”
Pembantu itu segera pulang menemui majikannya lalu menceritakan hal tersebut. Majikannya berpesan, “Hati-hati, jangan sampai ada seorang pun yang lain mengetahui hal ini.” Dan istri lama si pedagang kain juga tetap bersikap seperti biasa terhadap suaminya.
Si pedagang kain menjalani kehidupan bersama istrinya yang baru selama satu tahun. Lalu dia jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia dengan meninggalkan warisan sebanyak delapan ribu dinar. Maka istri yang pertama membagi harta warisan yang berhak diterima oleh putranya, yaitu tujuh ribu dinar. Sementara sisanya yang berjumlah seribu dinar ia bagi menjadi dua. Satu bagian ia letakkan di dalam kantong, kemudian ia berkata kepada pembantunya, “Ambillah kantong ini dan pergilah ke rumah wanita itu. Beritahukan kepadanya bahwa suaminya telah meninggal dengan mewariskan uang sebesar delapan rib dinar. Putranya telah mengambil tujuh ribu dinar yang menjadi haknya, dan sisanya seribu dinar aku bagi denganmu, masing-masing memperoleh setengah. Inilah bagian untukmu. Dan sampaikan salamku juga untuknya.”
Si pembantu pun pergi ke rumah istri kedua si pedagang kain, kemudian mengetuk pintu. Setelah masuk, disampaikannyalah berita tentang kematian si pedagang kain, dan pesan dari istri pertamanya. Wanita itupun menangis, lalu membuka kotak miliknya dan mengeluarkan secarik kertas seraya berkata kepada si pembantu, “Kembalilah kepada majikanmu dan sampaikan salamku untuknya. Beritahukan kepadanya bahwa suaminya telah menceraikanku dan telah menulis surat cerai untukku. Maka kembalikanlah harta ini kepadanya karena sesungguhnya aku tidak berhak mendapatkan harta warisannya sedikitpun.” (Shifatus Shofwah, 2/532)
MasyaAllah …….
Dinukil dari: Majalah Akhwat Shalihah vol. 16/1433 H/2012, dalam artikel “Mutiara Berkilau para Wanita Shalihah” oleh Syaikh Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim hafizhahullah, hal. 68-69.

Jumat, 15 Juni 2012

Sebuah Teladan dalam Derita

Oleh: KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy(pengasuh ke 4 pp.sal-syaf situbondo)

 Sebuah kisah teladan pernah dituturkan sahabat Anas ra. tentang Baginda Nabi saw. dalam menyikapi duka penderitaan. Bahkan ia menjadi saksi langsung atas peristiwa mengharukan itu.
Betapa sedih hati Nabi saw., manakala didekatkan tubuh putranya tercinta, Ibrahim ra., ke dalam pelukan. Saat itu nafas si kecil terdengar tak beraturan, menggigil karena demam yang sangat. Lalu didekapnya tubuh mungil tadi perlahan, penuh kasih sayang, sedang ia berjuang dalam menghadapai sakaratul maut. Demi melihat pemandangan yang teramat mengharukan itu, berderailah air mata bening Baginda, basahi wajahnya yang mulia, shollallohu 'alaihi wa sallam.
"Inna lillah wa inna ilaihi roji'un, mata teteskan airnya, dan hati rasakan kepiluannya. Kami tak berkata kecuali sesuatu yang menjadi ridlo Tuhan, dan untuk kepergianmu, hai Ibrahim, kami sangatlah merasakan kesedihan!" sabda Baginda terdengar begitu tabah menghadapi kematian putranya tercinta.
***


Kisah yang lain pernah juga disaksikan oleh Abu Sa'id ra., salah seorang sahabat terdekat Nabi saw., dan perawi hadits yang banyak menjadi rujukan.
Suatu hari, ia tampak bergegas pergi menjenguk Nabi saw. di kediamannya, setelah sebelum itu tersiar kabar bahwa Baginda jatuh sakit yang jarang dialaminya selama hidup.
Sahabat Nabi itu pun tak mampu menahan diri saat mengetahui kekasihnya sedang mengalami demam yang teramat sangat. Terlihat raut wajahnya tak lagi bisa menyembunyikan perasaan sedih yang mendalam, meski sebenarnya Nabi sendiri tak mengharapkan untuk dikasihani.
Saat ditemuinya Nabi saw. sedang terbaring. Abu Sa'id tak tahan untuk menghulurkan tangan, ia meletakkannya di atas helai kain beludru yang menyelimuti tubuh Sang Kekasih, seraya berkata, "Alangkah sangat demam yang engkau alami, ya Rasulalloh!"
Baginda Nabi menatap wajah sahabatnya begitu lekat. Kemudian bersabda, "Sesungguhnya kami para nabi memanglah demikian. Diberatkan atas kami setiap cobaan, dan dilipatgandakan untuk kami pahala balasan!" suaranya masih saja berwibawa, menunjukkan kebesaran jiwa pemiliknya.
Mendengar itu pun Abu Sa'id menimpali dengan bertanya, "Ya Rosulalloh, siapakah manusia yang paling berat cobaannya?"
"Para nabi!" jawab Baginda ringkas.
"Lalu siapa?" ia bertanya lagi.
"Para ulama'!"
"Lalu siapa lagi?" Abu Sa'id bertanya kembali.
"Orang-orang shaleh. Salah seorang diantara mereka ada yang diuji dengan kutu kepala sampai membunuhnya, dan yang lain ada yang diuji dengan kefakiran hingga tak mendapati sesuatu yang bisa dipakai kecuali sehelai mantel yang terbuka depannya. Sungguh seorang dari mereka ada yang sangat bahagia manakala diuji, melebihi kebahagiaan salah seorang kalian manakala memperoleh suatu anugerah."
***
Baginda Nabi saw. dicipta sempurna dalam setiap sisi kemanusiaannya. Hidupnya adalah teladan dalam makna yang hakiki. Teladan dalam hal yang terkecil sampai yang terbesar. Teladan dalam mensyukuri karunia ni'mat, dan teladan dalam menghadapi cobaan meski itu dirasa berat. Demikianlah para nabi, hidup mereka adalah cermin bagi umatnya.
Nabi mengajarkan kepada umat ini kapan saat yang tepat memberi simpati, dan kapan saat yang tepat untuk berempati. Baginda juga telah menjelaskan rasa berduka yang tidak melampaui batas. Ketika umat merasa kecil hati, tak mampu hadapi cobaan hidup, ia pun tampil dengan pesan-pesannya yang membangkitkan semangat, agar bertahan di titik kesabaran.
Apapun musibah yang dialami seorang mu'min dari keresahan hati, duka lara, kepelikan hidup dan bencana yang menimpa, sampai tertusuk duri pun, semua itu tidaklah terjadi kecuali menjadi tebusan atas kesalahan-kesalahan yang telah dilakukannya. Alloh akan menggugurkan dosa-dosa hambanya sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya ke tanah.
Bukankah perumpamaan seorang mu'min itu laksana tanaman yang tak henti-henti digoyang oleh hembusan angin? Maka demikianlah keadaan seorang mu'min yang tak henti-henti ditimpa cobaan sebagai ujian atas pengakuan keimanannya. Berbeda halnya dengan seorang munafik, ia umpama pohon Arz (sejenis pohon) yang tak bergoyang kecuali setelah dicabut dengan paksa!
Keteladanan ini bahkan dilakukannya sampai menjelang akhir hayat. Ketika malaikat Izrail as. datang meminta izin untuk menjemput ruhnya yang suci mulia. Baginda masih saja mengajarkan kepada Fatimah ra. putri tercinta, tentang sikap terbaik kala melepas kepergian orang tercinta, tentang kepergian dirinya menghadap Rofiqil a'la, Alloh swt.
Saat dilihatnya Fatimah menangis pilu, Baginda Nabi saw. bersabda, "Jangan menangis, hai putriku. Bila aku nanti mati ucapkanlah: Inna lillah wa inna ilaihi roji'un. Karena sungguh bagi setiap insan ada musibah yang diberi ganti!"
"Sebagai ganti dari engkau, ya Rosulalloh?" ucap Fatimah penuh tanya.
"Ya, sebagai ganti dari diriku!" tegas Nabi saw., memotivasi kebesaran jiwa sang putri kemudian.
dosa manusiapun dirahasiakan oleh Allah

Dalam sebuah riwayat dijelaskan, bahwa pada zaman Nabi Musa as, kaum bani Israil pernah ditimpa musim kemarau panjang, lalu mereka berkumpul menemui Nabi Musa as dan berkata: "Wahai Kalamullah, tolonglah doakan kami kepada Tuhanmu supaya Dia berkenan menurunkan hujan untuk kami!"
Kemudian berdirilah Nabi Musa as bersama kaumnya dan mereka bersama-sama berangkat menuju ke tanah lapang. Dalam suatu pendapat dikatakan bahwa jumlah mereka pada waktu itu lebih kurang tujuh puluh ribu orang.
Setelah mereka sampai ke tempat yang dituju, maka Nabi Musa as mulai berdoa. Diantara isi doanya itu ialah: "Tuhanku, siramlah kami dengan air hujan-Mu, taburkanlah kepada kami rahmat-Mu dan kasihanilah kami terutama bagi anak-anak kecil yang masih menyusu, hewan ternak yang memerlukan rumput dan orang-orang tua yang sudah bongkok. Sebagaimana yang kami saksikan pada saat ini, langit sangat cerah dan matahari semakin panas.
Tuhanku, jika seandainya Engkau tidak lagi menganggap kedudukanku sebagai Nabi-Mu, maka aku mengharapkan keberkatan Nabi yang ummi yaitu Muhammad SAW yang akan Engkau utus untuk Nabi akhir zaman.
Kepada Nabi Musa as Allah menurunkan wahyu-Nya yang isinya: "Aku tidak pernah merendahkan kedudukanmu di sisi-Ku, sesungguhnya di sisi-Ku kamu mempunyai kedudukan yang tinggi. Akan tetapi bersama denganmu ini ada orang yang secara terang-terangan melakukan perbuatan maksiat selama empat puluh tahun. Engkau boleh memanggilnya supaya ia keluar dari kumpulan orang-orang yang hadir di tempat ini! Orang itulah sebagai penyebab terhalangnya turun hujan untuk kamu semuanya."
Nabi Musa kembali berkata: "Wahai Tuhanku, aku adalah hamba-Mu yang lemah, suaraku juga lemah, apakah mungkin suaraku ini akan dapat didengarnya, sedangkan jumlah mereka lebih dari tujuh puluh ribu orang?" Allah berfirman: "Wahai Musa, kamulah yang memanggil dan Aku-lah yang akan menyampaikannya kepada mereka!."
Menuruti apa yang diperintahkan oleh Allah, maka Nabi Musa as segera berdiri dan berseru kepada kaumnya: "Wahai seorang hamba yang durhaka yang secara terang-terangan melakukannya bahkan lamanya sebanyak empat puluh tahun, keluarlah kamu dari rombongan kami ini, karena kamulah, hujan tidak diturunkan oleh Allah kepada kami semuanya!"
Mendengar seruan dari Nabi Musa as itu, maka orang yang durhaka itu berdiri sambil melihat kekanan kekiri. Akan tetapi, dia tidak melihat seorangpun yang keluar dari rombongan itu. Dengan demikian tahulah dia bahwa yang dimaksudkan oleh Nabi Musa as itu adalah dirinya sendiri. Di dalam hatinya berkata: "Jika aku keluar dari rombongan ini, niscaya akan terbukalah segala kejahatan yang telah aku lakukan selama ini terhadap kaum bani Israil, akan tetapi bila aku tetap bertahan untuk tetap duduk bersama mereka, pasti hujan tidak akan diturunkan oleh Allah SWT."
Setelah berkata demikian dalam hatinya, lelaki itu lalu menyembunyikan kepalanya di sebalik bajunya dan menyesali segala perbuatan yang telah dilakukannya sambil berdoa: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah durhaka kepada-Mu selama lebih empat puluh tahun, walaupun demikian Engkau masih memberikan kesempatan kepadaku dan sekarang aku datang kepada-Mu dengan ketaatan maka terimalah taubatku ini."
Beberapa saat selepas itu, kelihatanlah awan yang bergumpalan di langit, seiring dengan itu hujanpun turun dengan lebatnya bagaikan ditumpahkan dari atas langit.
Melihat keadaan demikian maka Nabi Musa as berkata: "Tuhanku, mengapa Engkau memberikan hujan kepada kami, bukankah di antara kami tidak ada seorangpun yang keluar serta mengakui akan dosa yang dilakukannya?"
Allah berfirman: "Wahai Musa, aku menurunkan hujan ini juga di sebabkan oleh orang yang dahulunya sebagai sebab Aku tidak menurunkan hujan kepada kamu."
Nabi Musa berkata: "Tuhanku, lihatkanlah kepadaku siapa sebenarnya hamba-Mu yang taat itu?"
Allah berfirman: "Wahai Musa, dulu ketika dia durhaka kepada-Ku, Aku tidak pernah membuka aibnya. Apakah sekarang. Aku akan membuka aibnya itu ketika dia telah taat kepada-Ku? Wahai Musa, sesungguhnya Aku sangat benci kepada orang yang suka mengadu. Apakah sekarang Aku harus menjadi pengadu?"
(Dikutip dari buku: "1001 Keinsafan "Kisah-kisah Insan Bertaubat. Oleh: Kasmuri Selamat M A)

Kemanusiaan Sebagai Watak Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW

20 April 2006 22:00:53
Oleh: A. Mustofa Bisri

Ketika Sayyidatina Aisyah r.a. ditanya tentang suaminya Nabi Muhammad saw, jawabnya sungguh cekak aos, “Kaana khuluquhu Al-Quran.” (Pekertinya adalah Al-Qur’an). Benar-benar cekak aos, singkat tapi cukup atau penuh makna.

Jawaban ini, selain menunjukkan tingkat kecerdasan Aisyah yang tinggi, juga membuktikan tingkat pemahaman yang luar biasa dari putri sahabat Abu Bakar itu terhadap Al-Qur’an dan pribadi Nabi Muhammad saw. Maklum murid dan istri kinasih Nabi.

Kiranya jawaban singkat tersebut – dengan sedikit berputar-putar – dapat pula dijadikan kunci jawaban apabila ada yang mempertanyakan kenapa sekarang ini banyak ummat Islam yang “tidak mengenal” Nabinya dan sedikit sekali pemimpin Islam yang mewarisi atau mencontoh kepemimpinan Nabinya.

Menurut saya, ucapan Aisyah itu bisa diartikan – wallahu a’lam – bahwa Nabi Muhammad saw merupakan pengejawantahan Al-Quran. Maka orang – apalagi yang tidak menangi Nabi Muhammad saw. – sebenarnya tak akan dapat mengenal Nabi Muhammad saw. Tanpa membaca dan memahami Al-Qur’an.

Semua anjuran, perintah, dan perilaku terpuji dalam Al-Qur’an seperti takwa, amal saleh, menegakkan kebenaran, memerangi kelaliman, membela kaum lemah, adil, berbudi, jujur, berkata benar, amar ma’ruf nahi munkar, dan seterusnya. Nabi Muhammad yang pertama-tama secara istiqomah melaksanakannya. Dan, semua larangan, pantangan, dan hal-hal buruk yang dikecam Al-Quran, seperti syirik, mengufuri nikmat, membunuh, mencuri, zina, kikir, dengki, tamak, serakah, berdusta, menghina sesama, dan hal-hal lain yang merendahkan martabat kemanusiaan. Nabi Muhammadlah yang pertama-tama dan secara istiqomah menjauhinya.

Maka anehkah apabila kemudian sebagai pemimpin, Nabi Muhammad saw begitu ditaati dengan kasih sayang – bukan karena terpaksa – oleh ummatnya? Pemimpin yang menganjurkan dan mencontohkan pengamalan anjurannya: yang melarang dan mencontohkan menjauhi larangannya, tentu sangat mudah diikuti dan ditaati. (Pada waktu Perang Khandaq, misalnya, para sahabat, dalam keadaan yang sulit dibawah terik matahari, menggali parit atas perintah Nabi, dengan penuh semangat. Ini tentu juga disebabkan karena sang pemimpin tidak sekedar memerintah, melainkan ikut bahkan mengawali mencontohkan dan membantu pelaksanaan perintahnya itu. Baca Sirat an-Nabi oleh Ibn Hisyam, III/ 231-5).

Watak kepemimpinan Nabi Muhammad saw lebih tegas lagi ditandaskan dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang – anehnya? – dihafal luar kepala oleh hampir semua pemimpin, yang dianggap pemimpin maupun yang mengaku pemimpin umat. Yaitu yang pertama: “Laqadjaa akum rasuulun min anfusikum ‘aziizum alaihi ma’anittum hariishun ‘alaikum bil mu’miniina rayyfun rahiim (Benar-benar telah datang kepada kalian seorang utusan dari kalangan kalian sendiri yang berat terasa olehnya (tak tahan ia melihat) penderitaan kalian; sangat menginginkan (keselamatan dan kebahagiaan) bagi kalian; dan terhadap orang-orang yang beriman, penuh kasih sayang lagi penyayang.” (Q.s. 9: 128).

Konon banyak orang “luar” tak habis pikir, bagaimana ada pemimpin seperti Nabi Muhammad saw yang ditaati ummat sedemikian rupa, sehingga seandainya Nabi menyuruh mereka mencebur ke dalam lautan api pun, mereka dengan rela dan senang hati melaksanakannya. Justru saya yang akan tak habis pikir jika pemimpin yang seperti itu sifatnya tidak ditaati sedemikian rupa oleh ummatnya.

Nabi tak tahan melihat penderitaan umatnya, baik di dunia maupun di akhirat. Maka tak henti-hentinya Nabi menolong dan menyuruh ummatnya menolong mereka-mereka yang memerlukan pertolongan, menyantuni, dan menyuruh menyantuni fakir miskin, anak yatim, janda, dan kaum dhu’afa. Nabi tak tahan melihat penderitaan ummatnya, maka tak henti-hentinya Nabi berbuat ma’ruf, menjauhi kemungkaran, melakukan dan menganjurkan amar ma’ruf nahi munkar.

Nabi tidak tahan melihat penderitaan ummatnya. Nabi yang sudah dua hari tidak makan, ketika mendapatkan makanan, mendahulukan sahabatnya yang senasib. Nabi menangis ketika seorang bocah meninggal. Nabi menanyakan tukang sapu yang cukup lama tak kelihatan. Nabi menjenguk dan menganjurkan menjenguk dan mendo’akan orang sakit. Nabi melayat dan menganjurkan melayat. Bahkan ada riwayat yang menceritakan Nabi melayat seorang pecinta burung yang burungnya mati dan mendoakan agar segera mendapat ganti. Dan, Anda tentu pernah mendengar sabda Nabi Muhammad yang luar biasa ini: “Barang siapa meninggal dan meninggalkan warisan, maka ahli warisnyalah yang berhak atas warisan itu, namun bila meninggalkan utang, akulah yang menanggungnya.”
Bahkan soal ibadat, Nabi Muhammad senantiasa menjaga agar ummatnya tidak merasa terberati dan menganjurkan agar tidak memberatkan mereka.

Nabi yang suka – dan dalam rangka menganjurkan – menyikat gigi misalnya, memerlukan bersabda dengan ungkapan: Laulaa an asyuqqa ‘alaa ummatii laamrtuhun bissiwaaki…(Seandainya tidak memberatkan ummatku, niscaya aku akan memerintahkan mereka menyikat gigi…).

Salat malam kita ketahui merupakan ibadat rutin Nabi Muhammad di malam hari dan sangat dianjurkan. Mula-mula Nabi melakukannya di Masjid, namun ketika banyak orang mengikuti jejaknya, beberapa malam kemudian Nabi tidak keluar lagi melakukan salat malam ke Masjid. Menurut hadist shahih, ini dikarenakan Nabi khawatir salat itu menjadi wajib dan akan memberatkan. Ketika Mu’adz, seorang sahabat dekat Nabi, dilaporkan terlalu panjang membaca bacaan-bacaan salat menjadi imam, Nabi Muhammad “memarahi”nya. “Di belakangmu terdapat orang tua, orang lemah, dan orang yang mempunyai keperluan,” sabda Nabi Muhammad memberi penjelasan.

Dan masih banyak lagi contoh-contoh yang lain yang dapat Anda baca di Sirah Nabi Muhammad.

Juga sabda Nabi Muhammad: Yassiruu walaa tu’assiruu (Buat mudahlah dan jangan mempersulit), lebih memperjelas betapa Nabi Muhammad saw. Memang tidak suka memberati ummatnya.

Nabi yang begitu tak tahan melihat penderitaan ummatnya, yang begitu ingin ummatnya selamat dan berbahagia, yang begitu ingin ummatnya selamat dan berbahagia, yang begitu mengasihi dan menyayangi orang-orang yang beriman, anehkah bila selalu mencontohkan dan menganjurkan kebenaran, kebaikan, keadilan, dan seterusnya serta menjauhi dan melarang perbuatan-perbuatan yang merendahkan martabat kemanusiaan dan mencelakan diri sendiri dan orang lain?

Ayat yang lain – yang ditujukan kepada Nabi – menegaskan: Fabimaa rahmatin minallahi lintalahum…”Maka dengan rahmat dari Allah, engkau pun lemah-lembut terhadap mereka-ummatmu. Sekiranya engkau keras dan berhati kasar, niscaya mereka akan lari dari padamu. Maka maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan ini (urusan perjuangan dan urusan-urusan duniawi lainnya). Kemudian apabila aku telah mantap, bertaqwallah kepada Allah. Sungguh Allah menyukai orang-orang yang bertawakal.” (Q.s. 3: 159).

Nah, apabila dua ayat di atas kita gabung, kita akan mendapatkan profil pribadi pemimpin agung yang bercirikan: Tidak tahan melihat penderitaan ummatnya, sangat menginginkan keselamatan dan kebahagiaan ummatnya, sangat mengasihi dan menyayangi ummatnya, lemah-lembut terhadap ummatnya, memaafkan dan memohon ampun kesalahan ummatnya, mau bermusyawarah dengan ummatnya, dan bertawakal kepada Allah swt. Setelah bulat tekadnya.

Bagaimana dengan para pewarisnya? 

Minggu, 10 Juni 2012

kepala ikan sang nelayan
Seorang nelayan salih di Tunisia tinggal di sebuah gubuk yang sederhana dari tanah liat. Setiap hari ia melayarkan perahunya untuk menangkap ikan. Setiap hari, ia terbiasa menyerahkan seluruh hasil tangkapannya pada orang-orang miskin dan hanya menyisakan sepotong kepala ikan untuk ia rebus sebagai makan malamnya.
Nelayan itu lalu berguru kepada syaikh besar sufi, Ibn Arabi. Seiring dengan berlalunya waktu, ia pun menjadi seorang syaikh seperti gurunya.

Suatu saat, salah seorang murid sang nelayan akan mengadakan perjalanan ke Spanyol. Nelayan itu memintanya untuk mengunjungi Syaikhul Akbar, Ibn Arabi. Nelayan itu berpesan agar dimintakan nasihat bagi dirinya. Ia merasakan kebuntuan dalam jiwanya.
Pergilah murid itu ke kota kediaman Ibn Arabi. Kepada penduduk setempat, ia menanyakan tempat tinggal sang syaikh. Orang-orang menunjukkan kepadanya sebuah puri indah bagai istana yang berdiri di puncak suatu bukit. “Itulah rumah Syaikh,” ujar mereka.
Murid itu amat terkejut. Ia berfikir betapa amat duniawinya Ibn Arabi dibandingkan dengan gurunya sendiri, yang tak lebih dari seorang nelayan sederhana.
Dengan penuh keraguan, ia pun pergi mengunjungi rumah mewah yang ditunjukkan. Sepanjang perjalanan ia melewati ladang-ladang yang subur, jalanan yang bersih, dan kumpulan sapi, domba, dan kambing. Setiap kali ia bertanya kepada orang yang dijumpainya, selalu ia memperoleh jawaban bahwa pemilik dari semua ladang, lahan, dan ternak itu tak lain ialah Ibn Arabi. Tak henti-hentinya ia bertanya kepada diri sendiri, bagaimana mungkin seorang materialistik seperti itu boleh menjadi seorang guru sufi.
Ketika tiba ia di puri tersebut, apa yang paling ditakutinya terbukti. Kekayaan dan kemewahan yang disaksikannya di rumah sang syaikh tak pernah ia bayangkan, bahkan dalam mimpinya. Dinding rumah itu terbuat dari marmer, seluruh permukaan lantainya ditutupi oleh karpet-karpet mahal. Para pelayannya mengenakan pakaian dari sutra. Baju mereka lebih indah dari apa yang dipakai oleh orang terkaya di kampung halamannya.
Murid itu meminta untuk bertemu dengan sang syaikh. Pelayan menjawab bahwa Syaikh Ibn Arabi sedang mengunjungi khalifah dan akan segera kembali. Tak lama kemudian, ia menyaksikan sebuah arak-arakan mendekati puri tersebut. Pertama muncul pasukan pengawal kehormatan yang terdiri dari tentara khalifah, lengkap dengan perisai dan senjata yang berkilauan, mengendarai kuda-kuda arabia yang gagah. Lalu muncullah Ibn Arabi dengan pakaian sutra yang teramat indah, lengkap dengan surban yang lazim dipakai para sultan.
Si murid lalu dibawa menghadap Ibn Arabi. Para pelayan yang terdiri dari para pemuda tampan dan gadis cantik membawakan kue-kue dan minuman. Murid itu pun menyampaikan pesan dari gurunya. Ia menjadi tambah terkejut dan geram ketika Ibn Arabi mengatakan kepadanya, “Katakanlah pada gurumu, masalahnya adalah ia masih terlalu terikat kepada dunia.”
Tatkala murid itu kembali ke kampungnya, guru nelayan itu dengan antusias menanyakan apakah ia sempat bertemu dengan syaikh besar itu. Dipenuhi keraguan, murid itu mengaku bahwa ia memang telah menemuinya. “Lalu,” tanya nelayan itu, “apakah ia menitipkan kepadamu suatu nasihat bagiku?”
Pada awalnya, si murid enggan mengulangi nasihat dari Ibn Arabi. Ia merasa amat tak pantas mengingat betapa berkecukupannya ia lihat kehidupan Ibn Arabi dan betapa berkekurangannya kehidupan gurunya sendiri.
Namun karena guru itu terus memaksanya, akhirnya murid itu pun bercerita tentang apa yang dikatakan oleh Ibn Arabi. Mendengar itu semua, nelayan itu berurai air mata. Muridnya tambah kehairanan, bagaimana mungkin Ibn Arabi yang hidup sedemikian mewah, berani menasihati gurunya bahwa ia terlalu terikat kepada dunia.
“Dia benar,” jawab sang nelayan, “ia benar-benar tak peduli dengan semua yang ada padanya. Sedangkan aku, setiap malam ketika aku menyantap kepala ikan, selalu aku berharap seandainya saja itu seekor ikan yang utuh.
Sumber: syafii.wordpress.com.