Jumat, 15 Juni 2012

Sebuah Teladan dalam Derita

Oleh: KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy(pengasuh ke 4 pp.sal-syaf situbondo)

 Sebuah kisah teladan pernah dituturkan sahabat Anas ra. tentang Baginda Nabi saw. dalam menyikapi duka penderitaan. Bahkan ia menjadi saksi langsung atas peristiwa mengharukan itu.
Betapa sedih hati Nabi saw., manakala didekatkan tubuh putranya tercinta, Ibrahim ra., ke dalam pelukan. Saat itu nafas si kecil terdengar tak beraturan, menggigil karena demam yang sangat. Lalu didekapnya tubuh mungil tadi perlahan, penuh kasih sayang, sedang ia berjuang dalam menghadapai sakaratul maut. Demi melihat pemandangan yang teramat mengharukan itu, berderailah air mata bening Baginda, basahi wajahnya yang mulia, shollallohu 'alaihi wa sallam.
"Inna lillah wa inna ilaihi roji'un, mata teteskan airnya, dan hati rasakan kepiluannya. Kami tak berkata kecuali sesuatu yang menjadi ridlo Tuhan, dan untuk kepergianmu, hai Ibrahim, kami sangatlah merasakan kesedihan!" sabda Baginda terdengar begitu tabah menghadapi kematian putranya tercinta.
***


Kisah yang lain pernah juga disaksikan oleh Abu Sa'id ra., salah seorang sahabat terdekat Nabi saw., dan perawi hadits yang banyak menjadi rujukan.
Suatu hari, ia tampak bergegas pergi menjenguk Nabi saw. di kediamannya, setelah sebelum itu tersiar kabar bahwa Baginda jatuh sakit yang jarang dialaminya selama hidup.
Sahabat Nabi itu pun tak mampu menahan diri saat mengetahui kekasihnya sedang mengalami demam yang teramat sangat. Terlihat raut wajahnya tak lagi bisa menyembunyikan perasaan sedih yang mendalam, meski sebenarnya Nabi sendiri tak mengharapkan untuk dikasihani.
Saat ditemuinya Nabi saw. sedang terbaring. Abu Sa'id tak tahan untuk menghulurkan tangan, ia meletakkannya di atas helai kain beludru yang menyelimuti tubuh Sang Kekasih, seraya berkata, "Alangkah sangat demam yang engkau alami, ya Rasulalloh!"
Baginda Nabi menatap wajah sahabatnya begitu lekat. Kemudian bersabda, "Sesungguhnya kami para nabi memanglah demikian. Diberatkan atas kami setiap cobaan, dan dilipatgandakan untuk kami pahala balasan!" suaranya masih saja berwibawa, menunjukkan kebesaran jiwa pemiliknya.
Mendengar itu pun Abu Sa'id menimpali dengan bertanya, "Ya Rosulalloh, siapakah manusia yang paling berat cobaannya?"
"Para nabi!" jawab Baginda ringkas.
"Lalu siapa?" ia bertanya lagi.
"Para ulama'!"
"Lalu siapa lagi?" Abu Sa'id bertanya kembali.
"Orang-orang shaleh. Salah seorang diantara mereka ada yang diuji dengan kutu kepala sampai membunuhnya, dan yang lain ada yang diuji dengan kefakiran hingga tak mendapati sesuatu yang bisa dipakai kecuali sehelai mantel yang terbuka depannya. Sungguh seorang dari mereka ada yang sangat bahagia manakala diuji, melebihi kebahagiaan salah seorang kalian manakala memperoleh suatu anugerah."
***
Baginda Nabi saw. dicipta sempurna dalam setiap sisi kemanusiaannya. Hidupnya adalah teladan dalam makna yang hakiki. Teladan dalam hal yang terkecil sampai yang terbesar. Teladan dalam mensyukuri karunia ni'mat, dan teladan dalam menghadapi cobaan meski itu dirasa berat. Demikianlah para nabi, hidup mereka adalah cermin bagi umatnya.
Nabi mengajarkan kepada umat ini kapan saat yang tepat memberi simpati, dan kapan saat yang tepat untuk berempati. Baginda juga telah menjelaskan rasa berduka yang tidak melampaui batas. Ketika umat merasa kecil hati, tak mampu hadapi cobaan hidup, ia pun tampil dengan pesan-pesannya yang membangkitkan semangat, agar bertahan di titik kesabaran.
Apapun musibah yang dialami seorang mu'min dari keresahan hati, duka lara, kepelikan hidup dan bencana yang menimpa, sampai tertusuk duri pun, semua itu tidaklah terjadi kecuali menjadi tebusan atas kesalahan-kesalahan yang telah dilakukannya. Alloh akan menggugurkan dosa-dosa hambanya sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya ke tanah.
Bukankah perumpamaan seorang mu'min itu laksana tanaman yang tak henti-henti digoyang oleh hembusan angin? Maka demikianlah keadaan seorang mu'min yang tak henti-henti ditimpa cobaan sebagai ujian atas pengakuan keimanannya. Berbeda halnya dengan seorang munafik, ia umpama pohon Arz (sejenis pohon) yang tak bergoyang kecuali setelah dicabut dengan paksa!
Keteladanan ini bahkan dilakukannya sampai menjelang akhir hayat. Ketika malaikat Izrail as. datang meminta izin untuk menjemput ruhnya yang suci mulia. Baginda masih saja mengajarkan kepada Fatimah ra. putri tercinta, tentang sikap terbaik kala melepas kepergian orang tercinta, tentang kepergian dirinya menghadap Rofiqil a'la, Alloh swt.
Saat dilihatnya Fatimah menangis pilu, Baginda Nabi saw. bersabda, "Jangan menangis, hai putriku. Bila aku nanti mati ucapkanlah: Inna lillah wa inna ilaihi roji'un. Karena sungguh bagi setiap insan ada musibah yang diberi ganti!"
"Sebagai ganti dari engkau, ya Rosulalloh?" ucap Fatimah penuh tanya.
"Ya, sebagai ganti dari diriku!" tegas Nabi saw., memotivasi kebesaran jiwa sang putri kemudian.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar